Wednesday, March 4, 2009

sajak nazak sebatang pokok

di sela pagar dan kawat duri
berselerak kata-kata dan lukisan pun
dilakar pada dada aspal sejarah.
angin kering beracun bersabda
dari dalam kamar kuasa. resah dan bahang
ammarah membuakkan rasa
angkuh berjejeran dari tubir songkok, topi
dan hanyir peluh.

(syahdan, garis-garis panjang arang
bercontengan dari kubah masjid
dan memadam kuning balairong seri
hingga ke hulu hati kami. anak-anak
mustadhafin hangit terbakar terik matahari
dan tengik lumpur bendang rezeki
mengontang dikikis sang peraih politik.
sambil melihat dan menelan air liurnya
menghilang dahaga, bertanya - ah, apa nasib
rumah pusakadan tanah tak bergeran
di pinggir beting yang semakin rapuh
dimamah gigi kapitalis bangsat?)

di kamar penjaga keadilan
kata dan hujah bertingkah
di bawah tadahan kerdil bayang2 pohon
beranting kurus dan tak berbaja
daun kering berjatuhan satu demi satu
meratapi matinya kewarasan dan demokrasi.

No comments: